๊ด๋๋น Naik, Warga Korea Lebih Memilih OTT daripada Bioskop
Cari tahu mengapa 50% penonton film Korea meninggalkan bioskop demi platform OTT seperti Netflix. Pelajari istilah kunci ๊ด๋๋น dan tren terbaru.
Cari tahu mengapa 50% penonton film Korea meninggalkan bioskop demi platform OTT seperti Netflix. Pelajari istilah kunci ๊ด๋๋น dan tren terbaru.

Komedian Jang Dong-min bekerja sama dengan PD 'Blood Game' untuk serial survival otak Netflix baru. Temukan berita terbaru K-entertainment!

Temukan bagaimana hits global seperti 'Made in Korea' dan 'XO, Kitty' menjadikan Seoul sebagai lokasi syuting utama. Pelajari istilah ๋ก์ผ.

Temukan kontroversi mengenai perusahaan AI yang mengakses data kesehatan publik di Korea. Pelajari arti dari ๋น์ ํ๋ฐ์ดํฐ (data tidak terstruktur).

Pelajari bagaimana Seoul Cinema Center dan pedagang lokal Eulji-myeongbo berkolaborasi untuk merevitalisasi distrik film bersejarah Chungmuro.

EN brief: โ๊ด๋๋น ๋น์ธ์, ์ง์์ ๋ณผ๋์โโฆ๊ด๊ฐ 10๋ช ์ค 5๋ช โ์ํ OTT ๊ด๋โ (culture) + 1 glossary term.
Laporan terbaru dari Dewan Film Korea (KOFIC) mengungkapkan pergeseran signifikan dalam cara warga Korea Selatan menikmati film. Hampir setengah dari populasi yang disurvei melaporkan bahwa mereka lebih jarang mengunjungi bioskop selama setahun terakhir dibandingkan periode sebelumnya. Harga tiket yang tinggi disebut sebagai alasan utama penurunan ini.
Seiring dengan turunnya jumlah penonton bioskop, platform Over-the-Top (OTT) telah menjadi media dominan untuk konsumsi film. Lebih dari 56% responden kini mengidentifikasi layanan OTT sebagai cara utama mereka menonton film, sementara bioskop tradisional tertinggal bahkan di bawah saluran TV dan layanan VOD dalam hal preferensi.
Data keuangan mencerminkan tren ini, dengan total pendapatan bioskop dan jumlah penonton yang keduanya mengalami penurunan persentase dua digit. Untuk pertama kalinya sejak 2012 (tidak termasuk tahun pandemi 2020-2021), industri film Korea gagal menghasilkan satu pun film mega-hit dengan "10 juta penonton".
Laporan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi kenaikan harga pasca-pandemi dan inflasi umum telah mengubah kegiatan menonton film dari hobi santai menjadi "pengeluaran selektif." Banyak konsumen kini menunggu film hadir di platform streaming daripada membayar untuk pengalaman bioskop premium.
Laporan "Riset Tren Konsumsi Konten Film" dari Dewan Film Korea menggambarkan situasi yang menantang bagi industri film domestik. Menurut survei terhadap 3.000 individu berusia 14 hingga 69 tahun yang dilakukan pada Oktober 2023, 45,8% responden mengatakan kunjungan bioskop mereka berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Secara khusus, 16,5% mengatakan kehadiran mereka "berkurang drastis," sementara 29,3% mencatat "sedikit penurunan."
Ketika ditanya mengapa mereka lebih jarang mengunjungi bioskop, jawaban yang paling umum (25,1%) adalah harga tiket yang sudah terlalu membebani. Faktor utama lainnya termasuk persepsi kurangnya film yang menarik (21,5%), banyaknya serial berkualitas di platform OTT (17,5%), dan fakta bahwa film segera tersedia di VOD atau streaming tak lama setelah rilis di bioskop (17,4%).
Ada ketidaksesuaian yang jelas antara ekspektasi konsumen dan realitas pasar saat ini. Meskipun harga rata-rata tiket film standar di Korea sekarang berkisar antara 14.000 hingga 15.000 KRW, 41% konsumen percaya bahwa harga yang pantas seharusnya antara 8.000 hingga 10.000 KRW. Kesenjangan harga ini mendorong migrasi ke menonton di rumah.
Dominasi OTT kini tidak terbantahkan. 56,1% konsumen film kini menggunakan streaming sebagai platform utama mereka. Sebaliknya, hanya 8,3% yang menyebut bioskop sebagai tempat utama mereka, yang mana lebih rendah dari saluran TV (25,8%) dan tayangan ulang VOD (9.1%).
Tahun lalu, total pendapatan bioskop di Korea turun 12,4% menjadi sekitar 1,047 triliun KRW. Total jumlah penonton film juga turun 13,8% menjadi 106,09 juta. Kurangnya hit "10 juta penonton"โtolok ukur kesuksesan budaya masif di Koreaโsemakin berkontribusi pada stagnasi industri ini.
๊ด๋๋นgwanrambi (Gwan-ram-bi) mengacu pada biaya masuk atau biaya menonton untuk pertunjukan, film, atau pameran. Kata ini menggabungkan ๊ด๋gwanram (menonton/menyaksikan) dan ๋นbi (biaya). Dalam konteks berita ini, istilah tersebut secara khusus merujuk pada kenaikan biaya tiket bioskop yang menghalangi penonton.
์์ฆ ์ํ ๊ด๋๋น๊ฐ ๋๋ฌด ๋น์ธ์ ๊ทน์ฅ์ ์์ฃผ ๋ชป ๊ฐ์.yojeum yeonghwa gwanrambiga neomu bissaseo geukjae jaju mot gayo.
โ Akhir-akhir ini saya tidak bisa sering pergi ke bioskop karena biaya menonton film terlalu mahal.
๊ด๋๋น๊ฐ ์ธ์๋๋ค๋ ์์์ ๋ค์์ด์.gwanrambiga insangdoendaneun sosigeul deureosseoyo.
โ Saya mendengar berita bahwa biaya menonton akan dinaikkan.